Mengintip ” Museum Goedang Ransoem ” Eks. Dapur Umumnya Tambang Ombilin Sawahlunto

oleh -211 Dilihat

Sawahlunto,Metrotalenta.online–Sawahlunto yang berada di provinsi Sumatera Barat merupakan kota tambang batubara yang ditemukan dan dieksploitasi sejak zaman Pemerintah Kolonial Belanda .

Untuk menggerakkan aktifitas penambangan emas hitam tersebut , Belanda mengerahkan ribuan pekerja yang terdiri dari berbagai etnis, suku dan bangsa sebagai pekerja kontrak , buruh bebas bahkan memanfaatkan para narapidana (pidana murni ataupun yang melawan kebijakan kolonial) yang dikenal dengan sebutan “Orang Rantai.

Memenuhi kebutuhan makanan , baik itu makanan utama ataupun makanan tambahan , pada tahun 1918 pihak manajemen tambang membangun sebuah komplek Dapur raksasa lengkap dengan sarana prasarana pendukungnya yang terdiri dari =
1. Bangunan utama dapur umum
2. Deretan gudang (warehouse) persediaan bahan mentah serta gudang padi.
3. Dua bangunan steam generator (tungku pembakaran) buatan Jerman bertahun 1894 yang diproduksi oleh Rohrendampfkesselfabrik D.R.Patente No. 13449 & 42321.
4). Cerobong asap (Menara)
5). Pabrik dan gudang es
6). klinik (hospital) mini
7). heuler (penggilingan padi)
8). Rumah kepala ransum
9). Pos penjaga
10). Rumah potong hewan dan
11). Rumah hunian dr. kepala rumah potong hewan.

Disinilah seluruh kebutuhan pekerja berikut keluarganya serta pasien Rumah Sakit Ombilin tersebut dipenuhi , dengan tujuan agar operasional penambangan dapat berjalan secara maksimal . Dalam sehari, para juru masak mesti memenuhi pasokan makanan siap saji dengan jumlah lebih kurang 6.000 porsi .

Pasca Kemedekaan Republik Indonesia, komplek bangunan ini mengalami beberapa peralihan fungsi antara lain;
– 1945-1950 sebagai tempat memasak makanan bagi Tentara (TKRI)
– 1950-1960 sebagai kantor ketik penyelenggaraan administrasi perusahaan Tambang Batu Bara Ombilin – 1960-1970 sekolah formal setingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP)Ombilin
– 1970-1980 sebagai hunian karyawan Tambang Batu Bara Ombilin
– 1980-2004 berfungsi sebagai tempat hunian Karyawan Tambang Batu Bara Ombilin dan masyarakat umum
– 2004-2005 bangunan ini direvitalisasi dan dikonservasi dan dijadikan Museum Goedang Ransoem yang diresmikan Wakil Presiden RI M. Jusuf Kalla pada tanggal 17 Desember 2005.

Secara fisik komplek bangunan dapur umum ini sudah di revitalisasi dan dikonservasi dari tahun 2005 hingga sekarang.

Beberapa bangunan atau bagian bangunan sudah tidak ada atau mengalami perubahan namun tidak mempengaruhi karakter dan kekhasan arsitektur kolonialnya.

Kini Dapur Umum yang telah beralih fungsi sebagai museum tersebut, memiliki ciri khas tersendiri dan berbeda dengan museum umumnya yang ada di Indonesia. Tercatat Koleksi museum tersebut berjumlah 150 buah (belum termasuk koleksi foto lama yang berjumlah lebih dari 250 buah) yang terdiri dari antara lainnya : periuk raksasa yang terbuat dari besi dan nikel dengan ukuran diameter 132 cm dan tinggi 62 cm, kuali, rangsang, dan beragam peralatan dapur umum berukuran raksasa, pakaian mandor, pakaian pekerja dan koki, perlengkapan tambang batubara, baik yang modern kala itu dan yang tradisional, serta contoh batu bara.

Museum ini buka setiap hari, dengan tiket masuk Dewasa Rp 4.000 dan Anak-anak Rp 2.000 serta IPTEK Center (eks Gudang Padi) dengan harga tiket Rp 3.000.

*Marjafri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.