Menelusuri Riwayat Keberadaan Kapitan Cina “Luitenant Der Chineezen” Di Sawahlunto

oleh -949 Dilihat
kapitan
OCMHS,Metrotalenta.online–Menelusuri Riwayat Keberadaan Kapitan Cina “Luitenant Der Chineezen” Di Sawahlunto.

** LATAR BELAKANG PENGANGKATAN KAPITAN CINA DI HINDIA BELANDA **
Tercatat mulai pada awal abad ke-15, kerajaan-kerajaan yang ada di Asia Tenggara, seperti Melaka dan Banten, menunjuk seseorang untuk menjadi pimpinan ditengah kelompok atau komunitas sejenis untuk diberikan tanggungjawab dalam hal urusan pemerintahan antara pemerintah dengan masyarakat asing, baik itu etnis Tionghoa maupun Arab dan Kling.

Individu yang terpilih sebagai pemimpin masyarakat tersebut diberikan gelar Luitenant/Kapitan (Kapitan Cina, Kapitan Kling) atau disesuaikan dengan jurisdiksi yang bersangkutan. Sistem ini diwarisi dari penjajah Portugis yang menaklukan Melaka pada abad ke-16, dan kemudian diikuti oleh Kompeni Belanda di Hindia Belanda, dan Inggris di (Malaya Britania).

Kapitan Cina merupakan gelar yang diberikan kepada para petinggi di kalangan masyarakat Tionghoa di Asia Tenggara yang ditunjuk oleh pemerintahan kerajaan pribumi, dan kemudian oleh pemerintahan kolonial.

Di Hindia Belanda Institusi Kapitan Cina memiliki tiga pangkat yaitu =
1. Majoor,
2. Kapitein dan
3. Luitenant der Chinezen – yang secara keseluruhan dipanggil dengan sebutan Chinese Officieren atau Opsir Tionghoa.

** KAPITAN CINA DI SAWAHLUNTO **

Keberadaan etnis Tionghoa di Sawahlunto berawal dari pembangunan jalur Kereta Api untuk transportasi Batubara dari Tambang Ombilin ke Pelabuhan Emmahaven / Teluk Bayur (1888 – 1894) yang sebagian besar pekerjanya adalah buruh asal Cina.

Tahapan demi tahapan pengerjaan yang berawal dari Lubuk Alung , Padang Panjang, Solok dan tahun 1891 pengerjaannya sampai di Muaro Kalaban. Dari sini para buruh tersebut di bagi dua, sebagian melanjutkan pembangunan jalur dengan membuat terowongan kereta api (Lubang Kalam) sebagian lainya di bawa ke Sawahlunto untuk bekerja di tambang. Selain sebagai buruh, Belanda juga mendatangkan mereka untuk memenuhi kebutuhan akan bahan makanan pertukangan dan bidang lainnya.

Perkembangan aktifitas penambangan Batubara yang ditemukan oleh Ilmuwan Belanda Ir. W.H. de Greeve tahun 1868 , mengakibatkan penambahan jumlah penduduk sehingga lambat laun sawahlunto berubah dari salah satu desa kecil dan terpencil di dataran tinggi Sumatera Barat menjadi sebuah kawasan perkotaan yang ditandai dengan perpindahan Ibukota Onderafdeeling Dari Sijunjung ke Sawahlunto dan memiliki Anggota Rapat Sendiri.

Tercatat pada Regeering Almanak 1895, Anggota Rapat Sawahlunto terdiri dari Ketua oleh kontrolir, Adjunct Djaksa Mohammad Daija Khatib Maharadja dan seorang penasehat Agama yaitu Haji Mohammad Taib.

Selain Anggota rapat, dengan keberadaan buruh dan pendatang Tionghoa yang sebagian besar melakukan aktifitas perdagangan sehingga lambat laun membentuk koloni sendiri (Pecinan/kampung cina), tanggal 8 Mei 1895 Belanda mengangkat seorang pemimpin dari komunitas tersebut dengan gelar Luitenant der Chineezen.

Luitenant Der Chineezen Te Sawahlunto “Lim Tjin Jang”.
(Foto dok.koleksi bpk. sofyan wanandi)

Pengangkatan Kapitan Cina pertama di Sawahlunto ini termuat dalam sebuah berita di surat kabar Java-bode : nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie terbitan 09-05-1895 yang isinya berbunyi : “Aturan atas orang Timur asing, Diangkat: …
Untuk Letnan Cina di Sawah Loento, Subdivisi Divisi Tanah-Datar Kota VII, kediaman Padangsche Bovenlanden (Pantai Barat Sumatera), I Jap Pho, pedagang disana.

Pengangkatan Kapitan Cina pertama tersebut juga tercantum pada Regerings-almanak voor Nederlandsch-Indië, 1897, Deel: 2, 1897.

Jap Pho,Kapitan Cina Pertama Di Sawahlunto

Selanjutnya (sepanjang yang dapat penulis telusuri) terdapat dua pemimpin Tionghoa lagi yang pernah menjabat sebagai Kapitan Cina di Sawahlunto yaitu Lim Lian Tjaij (diangkat :14 Aug 1904) dan Lim Tjin Jang (diangkat :16 Mei 1908)

** LUITENANT DER CHINEEZEN ” I JAP PHO ” **

I Jap Pho lahir tahun 1843 adalah pemimpin etnis Tiong Hoa pertama di Sawahlunto.

Dalam berita di Surat Kabar Tjaja – Sumatra terbitan Saptoe 29 September 1917 yang memuat kabar tentang wafatnya Kapitan Cina tersebut terlihat bagaimana ia dapat memfasilitasi kerjasama dan menjalin hubungan baik antara pemerintah kolonial dengan komunitas kaum nya serta menjalin hubungan yang harmonis dengan entitas dari berbagai suku bangsa terutama dengan pribumi sehingga warga kota khususnya etnis Tionghoa merasa kehilangan atas kepergiannya. Berikut penulis nukilkan isi dari berita surat kabar Tjaja Sumatera tersebut :

Pada hari Saptoe 29 September 1917 Toean I. Jap Pho luitenant dari orang Tiong Hoa di Sawah Loento, telah meninggal doenia dalam oemoer 74 tahoen diroemah toean itoe di Sawah Loento, sebab penjakit toea.

Diatas kematian Toean luitenant itoe, boekannja sadja anak isteri atau kaoem familie toean itoe jang berdoeka tjita, tetapi djoega bangsa Melajoe atau bangsa Eropah ada jang toeroet bersedih hati, waktoe mendengar chabar atas kemangakatan toean itoe, sebab toean Jap Pho seorang jang berboedi haloes perbasaan dan terlaloe soeka bertoeloeng2an dalam pekerdjaan jang baik dan pengasih kepada orang2 miskin.

Berpoeloeh tahoen toean itoe tinggal di Sawah Loento, beloemlah pernah kita mendengar orang jang meroengoet atau mentjela toean l. Jap Pho, baikpoen bangsa Tiong Hoa atau Melajoe melainkan semoea memoedji atas piil dan boedi baik toean itoe.

Chabarnja djenazah padoeka itoe kan dibawa ke Padang, boeat dikoeboer di Santiong, soepaja djadi satoe koempoelan dengan segala familie toean itoe jang soedah lebih dahoeleo menoetoep mata. Sedang toean l. Jap Pho sendiri soedah soeroeh bikin dan kasi atoeran, akan tempat itoe apabila soedah meninggal doenia, djadi selagi ajat toean itoe soedah atoer perkara jang bakal djadi dibelakang.

** LUITENANT DER CHINEEZEN ” LIM LIAN TJAIJ ” **

Lim Lian Tjaij adalah salah seorang pedagang di kota Sawahlunto yang diangkat sebagai Kapitan Cina kedua oleh Direktur Kehakiman tanggal 14 Aug 1904.
Tak ada catatan lainnya yang penulis temukan terkait data atau informasi lebih jauh tentang pemimpin Tionghoa ini.

** LUITENANT DER CHINEEZEN ” LIM TJIN JANG ” **

Berikut tulisan yang penulis kutip dari buku terbitan Kompas berjudul ‘Sofyan Wanandi dan Tujuh Presiden’ karya Robert Adhi Ksp .

Lim Tjin Jang, Lahir di Padang 4 maret 1871. Ia terlahir dalam keluarga Tionghoa sederhana yang tidak pernah menggunakan bahasa Mandarin dalam kehidupan sehari-hari. Saat berusia 6 tahun Lim Tjin Jang kecil di kirim ke Amoy, Xiamen, Tiongkok untuk melanjutkan pendidikan sekaligus belajar Bahasa .

Sekembalinya dari menuntut ilmu di tanah leluhur pada tahun 1888 , Lim bekerja dan berdagang sekian lamanya serta sempat merantau selama dua tahun di Singapura, Penang, Pulau Jawa dan Bali.

Tahun 1895 sekembali dari perantauan nya Lim menyunting seorang gadis berusia 15 tahun ” Sho Pien Nio ” yang terlahir pada 28 februari 1880. Dari pernikahan tersebut Lim di karuniai keturunan 14 orang anak di antaranya 11 laki-laki dan 3 perempuan.

Tahun 1900, Lim Tjin Jang di minta oleh kakak laki-lakinya yang bernama Lim Tjin Ham untuk pindah ke Sawahlunto guna melanjutkan usaha kakak nya tersebut yang sudah terlebih dahulu menetap di daerah itu sebagai leveransir balok-balok kayu pemasok kebutuhan logistik Ombilin Coal Mine ( Tambang Batubara Ombilin) yang saat itu berpenduduk sejumlah 26.000 jiwa.

Selain sebagai pemasok balok-balok kayu , Lim juga bergerak dalam usaha perniagaan / leveransir bahan makanan seperti beras, tepung beras, minyak kelapa, ikan asin dll guna memasok kebutuhan para pekerja Tambang Ombilin. Dalam keseharianya, Sho Pien Nio sebagai istri juga tidak tinggal diam. Ia adalah sosok perempuan yang sabar, rajin , ulet dan juga mempunyai jiwa dagang dengan melakukan usaha sampingan seperti jual beli kain batik, perhiasan dan logam mulia.

Karena usaha yang di gelutinya, Lim Tjin Jang memiliki kemampuan ekonomi yang mencukupi dan sangat berpengaruh dalam Komunitas Tionghoa di Sawahlunto. Melihat kondisi yang demikian , oleh pemerintah kolonial Belanda di angkatlah tokoh Tionghoa tersebut sebagai ” Luitenant der Chineezeen te Sawahloento ” 16 mei 1908 dan di naikkan menjadi ” Kapitein der Chinezen te Sawahloento ” tak berapa lama sebelum ia meninggal dunia tanggal 9 mei 1941 dalam usia 70 tahun di Sawahlunto.

Setelah berakhirnya zaman penjajahan, pemerintah Indonesia menghapuskan pangkat-pangkat Opsir Tionghoa.

* Sumber / referensi =
-https://id.m.wikipedia.org/wiki/Kapitan_Cina
– Java Bode : nieuws,handels-en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 09-05-1895
– Regerings-almanak voor Nederlandsch-Indië, 1897, Deel: 2, 1897
– De locomotief : Samarangsch handels- en advertentie-blad, 15-02-1899
– De locomotief, 20-08-1904
– Bataviaasch nieuwsblad, 18-05-1908
– Tjaja – Sumatra , Saptoe 29 September 1917
– De locomotief, 01-10-1917
– Regeerings Almanak Voor Nederlandsch Indie, Kalender en personalia.
– Lindayanti, dkk . “Kota Sawahlunto, jalur Kereta Api & pelabuhan Teluk Bayur”.
– Robert Adhi Ksp, Sofyan Wanandi dan Tujuh Presiden terbitan Kompas.

* Penyunting = Marjafri
Komunitas Anak Nagari Sawahlunto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.