Kisah Sidang Perkara Sulaiman Labai Dan Mohamad Joesoef gelar Radja Ketjil – Tokoh Perlawanan Rakyat Silungkang 1927

oleh -434 Dilihat

Sawahlunto,Metrotalenta.online–Kita poenja pembantoe kabarken dari sana :
Communist dihoekoem.
Pada hari Senen 24 Januari 1927 Landraad di Sawah Loento telah bersidang memeriksa perkara communisten Soeleiman Labai dan Mohamad Joesoef gelar Radja Ketjil, kedoeanja leider communist jang terkenal di Siloengkang, sebab disalahken bersama sama dan sepakat dengen maksoed aken menerbitken pikiran boeat meroeboehkan atau menjerang pamerenta Hindia Belanda.

Pada atau kira kira hari Djoemahat 28 Mei 1926 kira kira poekoel 4 petang pada tempat jang tida bertoetoep dalem kampoeng Siansek di Koebang (Sawah Loento), di tempat mana marika itoe telah membikin propaganda vergadering boeat P.K.I. dengen sengadja telah mengeloearken perkataan pada pendengernja diantaranja Si Sahat, Si Amat, Naoesin, Salim, Kitab, Moein, Pangkat, Akoet, Samat, Ragam, Sanah dan Abas serta mengeloearken perkataan perkataan jang menanem bibit kebentjian pada pamerenta Hindia Belanda.

Kerna terang salahnja, Landraad kasi hoekoeman pada masing masing communist terseboet dengen hoekoeman pendjara masing masing lamanja 5 taon, dengen dipotong selama dalem preventief, kedoea tertoedoe menerima poetoesan itoe alias tida maoe membanding

*Sumber : Surat Kabar SINAR SUMATRA, Hari Saptoe 29 Januari 1927

Sekilas Profil Sulaiman Labai.
” Sulaiman Labai” tokoh perlawanan Rakyat Silungkang …

Pada tahun 1915, Sulaiman Labai, seorang saudagar muslim, mendirikan cabang Sarekat Islam di Silungkang. Tiga tahun kemudian, ia mulai mempelopori perlawanan terhadap peraturan-peraturan kolonial yang melarang pengangkutan beras.

Saat itu, sebagian besar rakyat Silungkang sedang dilanda kelaparan. Namun, ironisnya, kereta-kereta pengangkut beras belanda tidak pernah berhenti hilir-mudik melewati Silungkang. Beras-beras itu dikirim untuk pejabat dan administrator Belanda yang berada di tambang Ombilin di Sawahlunto.

Di sinilah aksi “Robin Hood” itu terjadi.
Pada tahun 1918, Sulaiman Labai dan puluhan anggotanya memaksa kepala stasiun untuk menyerahkan dua gerbong beras dari keretap api yang melintas di Silungkang. Beras hasil rampasan itu kemudian dibagi-bagikan kepada rakyat yang kelaparan.

Sulaiman Labai ditangkap gara-gara aksi tersebut. Namun demikian, kisah kepahlawanannya membuat rakyat sangat bersimpati kepadanya dan Sarekat Islam. Dalam sekejap, banyak orang yang ingin bergabung dengan organisasi bentuk HOS Tjokroaminoto tersebut.

SI cabang Silungkang pun berkembang pesat. Selain memimpin SI, Sulaiman Labai juga memimpin koran : Panas. Tetapi, sangat sedikit sumber tentang koran ini dan sepak terjang Sulaiman Labai di dalamnya.

Pada tahun 1924, SI cabang Silungkang diubah menjadi Sarekat Rakyat (SR). Meningkatnya aktivitas kaum radikal dalam perjuangan anti-kolonial mendorong pemerintah Belanda melakukan penangkapan-penangkapan.

Pada tahun 1926 Sulaiman Labai ditangkap dan di penjarakan Belanda sebelum terjadinya perlawanan anti-kolonial di Silungkang pada malam Tahun Baru 1927. Aksi perlawanan itu menemui kegagalan. Ribuan aktivis, kaum tani, kaum buruh, ulama, dan rakyat biasa ditangkap oleh Belanda.

Maret 1928 Sulaiman Labai dan sejumlah pejuang rakyat Silungkang di pindahkan ke sebuah penjara di Pulau Jawa.

Abdul Muluk Nasution, salah seorang tokoh perlawanan rakyat Silungkang yang turut dibuang ke pulau Jawa, menulis satu lagi kisah keberanian Sulaiman Labai saat berada di penjara Belanda di Glodok, Jakarta.

Pada tahun 1930, dua tahun setelah Sumpah Pemuda, seorang tokoh PNI Jabar yang juga dipenjara di Glodok, Tussin, memberitahu Sulaiman Labai dan kawan-kawan perihal Sumpah Pemuda itu. Tidak hanya itu, Tussin juga mengajari Sulaiman Labai dan kawan-kawan menghafal dan menyanyikan lagu “Indonesia Raya”.

Pada pukul 8 malam, 28 Oktober 1930, di bawah pimpinan Sulaiman Labai, tokoh perlawanan Silungkang, Sumpah Pemuda dibacakan. Lagu Indonesia Raya pun mereka gemakan serentak di setiap sel penjara Glodok, tanpa mempedulikan risiko dicambuk atau diasingkan di sel gelap dengan tangan dan kaki terantai. Ya, Sulaiman Labai, pahlawan yang tak kenal takut itu.

Pada tahun 1937, ketika Abdul Muluk dibebaskan dari penjara, Sulaiman Labai yang sudah berumur 60-an tahun masih harus menjalani penjara 15 tahun lagi.

Pada tahun 1942, ketika Jepang menguasai Indonesia, Sulaiman Labai tetap berada di dalam penjara. Ia menolak dibebaskan oleh Jepang. Sebab, baginya, Jepang dan Belanda sama saja: merampas kemerdekaan rakyat Indonesia.

Sulaiman Labai, pejuang rakyat Silungkang yang tak kenal surut, meninggal di dalam penjara pada tanggal 15 Agustus 1945—dua hari menjelang Bung Karno dan Bung Hatta membacakan kemerdekaan negeri yang diperjuangkannya. Semoga kita tetap mengenang kisah perjuangan seperti beliau ini. Merdeka!

*Sumber : Nawir Said “Perlawanan Rakyat Silungkang Terhadap Kolonial Belanda 1927”.

* Di sunting : Marjafri, “Komunitas Anak Nagari Sawahlunto”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.