History,metrotalenta.online–Menyingkap Sejarah Berdirinya Kekaisaran Manancabo/Minangkabau Sejak 1039 Tahun Sebelum Kelahiran Nabi Isa Alaihis Salam,Minangkabau yang kaya dengan hasil bumi (rempah2, emas, batubara dll) adalah kawasan yang dulunya bernama Manancabo dengan sistem pemerintahan Kerajaan/kekaisaran sejak 1039 tahun sebelum kelahiran Nabi Isa Alaihissalam .
Dari tulisan2 kuno para penjelajah dunia, Kawasan Manancabo yang berada di Sumatra (nama kunonya Taprobana), Raja pertama Minangkabau/Manancabo ini dipilih dan dinobatkan pada era Kenabian Sulaiman Alaihis Salam yang saat itu tengah membangun kuil Yerusalem.
Seiring perkembangan zaman , nama Kekaisaran Manancabo ini mengalami perubahan2 hingga pada perkembangan terakhir menjadi Minangkabau yang dikait sematkan dengan legenda adu kerbau.
Nama Manancabo dan pusat kekaisarannya terlihat pada peta kuno karya Giovanni Battista Ramusio (1485-1557), dimana pada peta tersebut pulau Sumatra bernama Taprobana. (Taprobana berasal dari bahasa sansekerta, yaitu tamrapani. Artinya adalah “daun tembaga”. Hingga kini belum diketahui pasti mengapa pulau itu dijuluki Taprobana).
Kabar tentang keberadaan pulau ini menyebar ke Eropa lewat laporan Megasthenes pada 290 SM. Dia adalah seorang penjelajah Yunani yang pernah melawat ke India.
Berikut kutipan singkat dari manuscript yang termuat dalam “Journal of the Malayan Branch of the Royal Asiatic Society”.
Wilayah Manancabo terletak di Wilayah emas yang bergunung-gunung dan terjal dengan pegunungan dan puncak yang tinggi. Tanah seperti itu selalu menghasilkan emas dalam jumlah yang lebih besar daripada ladang dan tanah yang datar.
Kekaisaran Manancabo, berdiri 1039 tahun sebelum Kelahiran Kristus yaitu dalam Pemerintahan Sulaiman, ketika yang terakhir membangun Kuil Yerusalem dengan raja pertamanya bernama Manancambin yang dengan namanya kekaisaran itu dinamai.
Suksesi selalu di daerah dan keluarga yang sama sampai ke Rajagaro yang sekarang menduduki tahta, meskipun dia tidak sekuat Gubernur “Xabandar”, yang selama masa jabatannya dari perdagangan emas di daerahnya emas debu diukur dalam bak pengukur seperti satu takaran gandum, dan disimpan dalam “Madanas” atau guci Martavan.
Pengadilan Raja terletak di tengah Wilayah Emas, di tempat yang disebut Galian Mas, di mana dia dilayani oleh Manancabos, yang disebut dari ‘Manancambin’.
Kerajaan Lada dan Tambang Emas.
Negeri Lada terdiri dari Wilayah-Wilayah Kerajaan yang berbeda seperti Palimban, Jambe, Andriguir, Campar, Siaca dan Bancales; ini adalah Pelabuhan untuk Lada hitam bulat, yang disebut Lada-jagung. Meskipun lada dapat diperoleh di semua pelabuhan ini, jumlah yang lebih besar dapat ditemukan di Jambe, Andriguir, dan Campar (yang biasanya menghasilkan semua lada yang dibutuhkan oleh Kapten Malaka) dan di pelabuhan, dan sepanjang pantai, dari Sungai yang mengalir sampai ke Wilayah Emas.
Semua Pelabuhan ini terletak di pantai Timur Samatra Selatan, dan termasuk dalam bagian tanah yang terletak di antara Kerajaan Palimban dan Bancales atau Arrancan.
Campar adalah Pelabuhan emas; terletak di pesisir timur Samatra Selatan, satu derajat Selatan; ia memiliki Sungai yang melimpah yang membentang hingga Wilayah Emas atau Pancalan Capas, sebuah tempat yang termasuk Manancabos, atau lebih tepatnya, sejauh Sunetrat, di mana terletak kantor Xabandar atau “Xabandar” Chiay Cetin yang mengendalikan perdagangan dan transaksi emas dari Wilayah Emas.
Raja Campar menikmati keuntungan dari tambang emas tertentu, terutama emas dari Shores dan Banks of the Rivers di hi Territory, dan terutama dari Shores of the Sunetrat; emas ini didapat dengan cara berikut :
Setiap hari orang-orang tertentu dari keluarga Raja berkumpul, dipersenjatai dengan saringan yang dirancang dengan cerdik, untuk menyaring pasir dari Pesisir dan Tepian sungai yang merupakan Sunetrat, Sungai Campar: dan mereka selalu menemukan emas bercampur dengan pasir di saringan mereka: dengan cara ini Raja memperoleh banyak sekali emas dalam bentuk bubuk, seperti butiran mustard atau sisik ikan. etc … etc … etc…
Nama Manancabo juga terdapat dalam journal “Duarte Barbosa” yang melakukan pelayaran sepanjang pesisir Samudra Hindia, mulai dari Afrika Timur hingga kepulauan di Indonesia tahun 1512.
Dalam laporannya, “Duarte Barbosa” menuliskan, Setelah melewati pulau-pulau ini di dekat Tanjung Malaka, sekitar dua puluh liga ke selatan terdapat sebuah pulau besar dan sangat indah yang disebut Samatara, yang memiliki banyak pelabuhan laut.
Kerajaan utama bangsa Moor disebut Pedir. Banyak lada yang sangat baik tumbuh di dalamnya namun tidak sekuat atau sehalus Malabar. Banyak sutra tetapi tidak sebagus sutra Cina. Kerajaan lain disebut Birahem, Paser, Campar, Andraguide dan Manancabo yang memiliki banyak emas murni diperdagangkan ke Malaka (sebagian besar dalam bentuk debu), kerajaan bernama Haru dan kerajaan lainnya.
*Marjafri – Komunitas Anak Nagari
Sumber :
-https://nationalgeographic.grid.id/read/13284358/taprobana-sebutan-penjelajah-eropa-untuk-sumatra
– The travels of Ludovico di Varthema …
– Journal of the Malayan Branch of the Royal Asiatic Society
– universitad hamburg, dejava history 1512 -Duarte Barbosa








