Sawahlunto,Metrotalentaonline–Jejak Pabrik Briket Kokas Percontohan Modern Pertama Di Indonesia,Di temukannya cadangan Batubara yang melimpah di Kota Sawahlunto oleh insinyur Belanda Willem Hendrik de Greve pada tahun 1868 , membuat pemerintah kolonial Belanda menanamkan investasi dan melakukan operasional penambangan secara besar besaran. Di mulai dengan pembangunan jalur transportasi kereta api Emahaven – Sawahlunto (1888 – 1894)
Tak hanya sebagai bahan bakar di pabrik-pabrik maupun untuk pemakaian rumah tangga, Batubara ini juga sangat berperan dalam menunjang operasional kapal2 perang Belanda .
Seiring dengan di temukanya kandungan bijih besi yang melimpah di Hindia Belanda (Indonesia) , Belanda pun melakukan inovasi dan investasi yang di awali dengan penelitian kandungan batubara yang ada dan di lanjutkan dengan pembangunan pabrik kokas dimana nantinya kokas tersebut akan di gunakan di tungku-tungku pembakaran pada industri besi dan baja seperti pembangunan instalasi briket Kokas yang terletak di Desa Muaro Kalaban, Kecamatan Silungkang, Kota Sawahlunto ini.
Sejarah
Ketika situasi perang menghambat Hindia Belanda untuk memenuhi sebagian besar kebutuhannya yang selama ini bergantung pada negara asing khususnys kebutuhan terhadap produk besi dan baja, muncul keinginan yang kuat dari Pemerintah Kolonial untuk membuka cabang industri baru yaitu pembuatan besi dan baja dimana di Hindia itu sendiri memiliki kandungan bijih besi dan Batubara yang di harapkan dapat di andalkan guna mewujudkan kebutuhan akan produk besi dan baja tersebut .
Keinginan itu mengemuka di samping untuk memenuhi kebutuhan Sendiri juga untuk menepis celaan eksternal yang menuding Pemerintah Belanda tidak berdaya untuk mengeluarkan kekayaan mineral yang tersembunyi di tanah Hindia.
Awalnya meskipun beberapa konsesi untuk ekstraksi bijih besi di Hindia Belanda telah dikeluarkan sebelum perang, kepada “Lampongsche Exploratie Maatschappij” di distrik Lampong (Sumatera Selatan), dan kepada insinyur pertambangan Swiss E. de Stoutz di pulau Seboekoe, dekat Poeloelaut (Kalimantan ) namun pendirian industri besi dalam negri belum dapat terwujud karena tampaknya mereka seperti tidak berdaya untuk menghasilkan sendiri kekayaan mineral ini dan mereka juga tidak dapat mengandalkan dukungan dari kalangan kapital Belanda.
Untuk mewujudkan keinginan yang mendesak tersebut tentu saja yang pertama kali harus di lakukan adalah penyelidikan terhadap kemungkinan memproduksi kokas yang sangat diperlukan untuk proses pengolahan bijih yang jika memungkinan bahan nya mesti di dapat dari batubara Hindia Belanda. Selain itu yang harus di teliti juga adalah nilai bijih besi Hindia untuk industri serta prospek komersial umum dari pabrik besi tesebut mesti dipertimbangkan dengan cermat.
Pada tahun 1916, Dinas Pertambangan di Hindia Belanda ditugaskan untuk melakukan penelitian serta menyusun gambaran tentang prospek bijih besi di berbagai wilayah Kepulauan Hindia …
Pada tanggal 13 Oktober 1916, Ir. Wenckebach menyampaikan laporan hasil penyelidikannya bahwa batubara Hindia tidak cocok untuk produksi kokas, karena batubara tersebut hanya akan menghasilkan kokas berpasir dan tidak koheren,.
Namun hal itu di bantah oleh chief engineer Koomans dimana berdasarkan hasil penelitiannya ia telah berhasil, dalam percobaan skala kecil memproduksi beberapa ton kokas yang terbukti sangat berguna di tungku peleburan di Sawahloento.
Sementara itu laporan hasil eksperimen di Cina dan Jepang di mana batubara nya memiliki sifat yang mirip dengan batubara Ombilin , juga berhasil diproses menjadi kokas yang sangat baik dengan mencampurkan persentase tertentu dari antrasit Tonkinese.
Berdasarkan itu semua di dapat kesimpulan bahwa pentingnya masalah akan kebutuhan kokas hasil produksi tambang batubara Pemerintah di Nederlandsche Indie ( pada saat itu hanya ada di tambang Ombilin dan Poelaoe laoet ) dapat terpenuhi terutama untuk kepentingan industri besi Hindia pada masa depan.
Hal tersebut di perkuat oleh laporan chief engineer Koomans yang telah melakukan penyelidikan terhadap bahan kokas dari batubara produksi tambang Ombilin di Sawahlunto yang menuliskan bahwa , jika batubara hasil produksi Ombilinkools memadai maka pemerintah akan dengan mudah menaklukkan seluruh pasar di Hindia dan negara-negara tetangga.
“Dari segi harga akan mudah untuk membuat penawaran yang kompetitif, sedangkan dari sifat bahan bakunya kemurnian batubara dari tambang Ombilin menjamin sifat kimia yang unggul dari kokas hasil produksi pabrik di Sawahlunto.
Pada masa itu , hal ini adalah suatu terobosan yang luar biasa bahwa Chief enginer Koomans akan menggunakan batubara kasar untuk ekstraksi kokas dari hasil tambang batubara Ombilinkolen dimana hal ini sangat berbeda dengan teknik yang selama ini di gunakan untuk memproduksi kokas Eropa yang hampir secara eksklusif menggunakan batubara halus
Penelitian Ir. Koomans membuka jalan untuk eksperimen lebih lanjut dan menghasilkan keputusan untuk mendirikan instalasi oven kokas “PERCONTOHAN MODERN PERTAMA” di Hindia Belanda dengan kapasitas harian 20 ton kokas di tambang Ombilin (dekat Sawahloento ).
Lokasi di mana pabrik Kokas tambang Ombilin tersebut dibangun terletak di Sungai Moeara Kalaban (anak sungai Siloengkang), di utara halte Moeara Kalaban dari Kereta Api Negara di Pantai Barat Sumatera.
Pemasangan instalasi Kokas untuk tambang Ombilin di Sawahlunto di pimpin oleh ” ir. A . Vanderham” sedangkan untuk keperluan berbagai suku cadang dan pengelolaan serta perakitan di tempat dipercayakan kepada “Hinselmann Koksofenbau Ges. m. b. H”. di Essen a.d. Ruhr dimana perusahaan ini juga yang menyediakan instalasi oven kokas untuk Staatsmijn “Emma” di Limburg Selatan.
Pembangunan dan pengembangan nya berlangsung dalam 3 tahap yaitu :
1. Tungku pertama selesai di bangun dan beroperasi pada bulan Mei 1917
2. Tungku kedua selesai di bangun dan beroperasi pada tanggal 30 Juni 1917
3. Tungku dengan 4 ruang selesai di bangun dan beroperasi untuk pertama kalinya pada paruh kedua bulan Juni 1918.
Hasil produksi pertama pabrik Kokas sesuai permintaan Pemerintah Hindia Belanda semestinya harus dikirim pada bulan Juni 1917 tapi karena kondisi perang yang tengah berlangsung, baru bisa terpenuhi pada tahun 1921 .
Adapun konstruksi dari pabrik kokas ini terbuat dari Batu bata tahan api normal untuk tungku dan batu bata grid untuk regenerator, serta mortar tahan api normal yang diproduksi atau dipesan di Hindia.
Sedangkan batu bata untuk suprastruktur dan substruktur tungku inti serta bahan Silika yang di gunakan untuk dinding tungku menggunakan bahan bahan yang khusus dikirim dari Eropa.
Kemudian juga di terapkan sebuah fitur khusus yang jarang atau tidak akan pernah ditemukan di Eropa atau Amerika yaitu rangkaian Baterai tungku yang di tutupi dengan konstruksi atap besi profil mengingat iklim tropis dengan curah hujan yang lebat.
Tanggal 14 Juli 2021, Dinas Peninggalan Bersejarah dan Permuseuman Kota Sawahlunto bersama Upt. Balai Pelestarian Cagar Budaya Sumbar Wilayah kerja Sumbar, Riau dan kepulauan Riau melakukan penelusuran dalam rangka pengusulan lokasi ini sebagai salah satu Situs Cagar Budaya di kota Sawahlunto
***************
Penulis = Marjafri
Sumber =
* Het verslag dezer twee proefseries is gedagteekend: Sawahloento, 12 Juli 1917 en onderteekend Th. C. van Wijngaarden)
* „De Ingenieur” van 17 Juli 1920 N°. 29: „Cokesoveninstallatie voor de Ombilinmijnen te Sawahloento”, door ir. A. van der Ham)
* COMMISSIE TOT ONTWIKKELING VAN DE FABRIEKSNIJVERHEID IN NEDERL.-INDIË. N°. 7.- “HET COKESVRAAGSTUK DER INDISCHE KOLEN.”. (‘S-GRAVENHAGE ALGEMEENE LANDSDRUKKERIJ 1927.)







