Metrotalenta.online–Kota Sawahlunto dikenal sebagai kota Kuali. Bukan saja karena morfologis kota berbentuk kuali yang terletak di dasar lembah dikelilingi bukit yang indah, tapi juga dikenal sebagai kuali peleburan (melting pot) berbagai keberagaman penduduk karena latar sejarah pertambangan batubara terbesar di Asia Tenggara pada masanya.
Kedatangan para pekerja tambang dari latar etnis, budaya dan agama yang berbeda, membuat Sawahlunto menjadi kota yang berbeda dengan kota-kota di ranah Minang lainnya. Karakter kebinekaan kota inilah yang harus dipertahankan dan dipublikasikan kepada khalayak agar sawahlunto bisa menjadi contoh bagi kebinekaan.
Multikulturalisme adalah konsep membangun kekuatan bangsa dengan memadukan berbagai potensi dari berbagai latar belakang etnik, agama, ras, budaya dan Bahasa. Konsep ini juga menghargai dan menghormati hak-hak sipil, termasuk minoritas. Sikap apresiatif ini akan meningkatkan partisipasi dalam memajukan bangsa.
Begitu pula dengan Sawahlunto, kota tambang yang sejak dulu tempat berkumpulnya berbagai etnis, yakni suku Jawa, Minang, Tionghoa, Sunda, Batak dan Bugis yang dijadikan sebagai pekerja tambang. Keberagaman tidak membuat mereka menjadi terpecah belah tapi saling menghargai dan berpartisipasi untuk membuat sebuah kebudayaan yang mengakomodir semuanya.
Seperti teori Salad Bowl atau teori gado-gado, dengan tidak menghilangkan budaya asal, tapi sebaliknya berbagai budaya yang ada terakomodir dan masing-masing memberi kontribusi membangun kesatuan budaya Sawahlunto. Kita lihat sekarang, di Sawahlunto kita bisa menemui berbagai tradisi budaya asal seperti Bajamba, wayang Sawahlunto, Jalan Kepang Bahasa Tansi hadir memperkaya wajah kebinekaan.
“Dulur Tunggal Sekutho” (saudara satu kota) adalah acara sejenis festival multikulturalisme yang bermaksud mengangkat potensi keberagaman agar menjadi contoh dan teladan bagi kota-kota lain agar menghargai perbedaan. Diambil dari konsep persaudaraan Dulur Tunggal Sekapal, yang lahir saat para pekerja tanah Jawa berangkat ke Sawahlunto dalam satu kapal, dalam susah senang bersama, yang mengikat mereka dalam sebuah tali persaudaraan. Jika dulu saudara satu kapal, kini berkembang menjadi saudara satu kota: Sawahlunto kita tercinta.
Keberagaman merupakan anugerah yang patut disyukuri. Keberagaman dapat memunculkan banyak potensi untuk memajukan sebuah kota. Dengan keberagaman Sawahlunto menjadi kaya akan nilai-nilai luhur dan budaya.
Melihat keberagaman dan kebinekaan tersebut mendorong Ditrektorat Perfilman, Musik dan Media Baru, Ditjen Kebudayaan, Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi menyelenggarakan kegiatan multicultural dengan tema “Dhulur Tunggal Sekuto” yang dirangkai dengan beberapa rangkaian kegiatan seperti Sarasehan Warisan Dunia, Penampilan seni dan Musik, Pemeran Kuliner, Flashmop serta mendatangkan musisi dan penyanyi campur sari Dory Harsa yang pelaksanaan kegiatannya dilaksanakan pada tanggal 17 Desember 2022 di Lapangan Segi Tiga PT.BA UPO dan Museum Goedang Ransoem.
*Marjafri







