spot_img
spot_img
BerandaDAERAHKOTA SAWAHLUNTOKisah Perjalanan Thomas Dias Ke Sumatera Tengah Tahun 1684

Kisah Perjalanan Thomas Dias Ke Sumatera Tengah Tahun 1684

History,metrotalenta online–Kisah Perjalanan Thomas Dias Ke Sumatera Tengah Tahun 1684,Bagaimana memahami sebuah masyarakat yang nama dan lokasinya hanya diketahui lewat gambar pada sebuah peta ?

Itulah kendala umum yang dihadapi VOC (sebuah badan usaha perdagangan yang pertama dan utama masa itu) di abad ketujuhbelas saat pertama kalinya menjelajahi kepulauan Indonesia yang begitu luas. Mereka dihadapkan dengan keharusan untuk memahami berbagai karakter alam dan masyarakat yang hendak mereka jadikan sebagai mitra usaha.

Pada tahun 1514 sebuah ekspedisi Portugis berlayar ke Sungai Siak untuk bertemu dengan penguasa kerajaan yang termasyhur. Beberapa penduduk asli dikirim terlebih dahulu ke pedalaman, menemui Sultan dan kembali dengan beberapa barang perdagangan, termasuk emas. Segera berkembanglah perdagangan emas di antara keduanya, Menangkabau dan Malaka.

Melalui Kampar, lalu lewat jalan darat ke Siak menyisir sepanjang sungai ini menuju laut.
Penduduk di sepanjang Sungai Siak adalah Menangkabau, sementara anak sungai yang lebih rendah berada di bawah kekuasaan Sulltan dari Johor. Menurut kronik kuno seorang saudara laki-laki dari Sultan Johor sudah memerintah di Siak sejak tahun 1602. Jalur perdagangan disini berada di bawah kekuasaan Johor, namun seperti yang dikatakan oleh Joan van Riebeeck (Gubernur Malaka hingga tahun 1665) : “sangat sedikit peminat” datang dari Siak. “Hanya beberapa penduduk asli Malaka kadang-kadang menetap untuk waktu yang lama di pedalaman Siak untuk membeli batu bezoar dari orang-orang liar dan buas yang tinggal di sana”.

Situasi berubah ketika tambang timah ditemukan tahun 1674, penduduk asli mengangkut bijih dalam jumlah besar ke Malaka dan para penguasa mencoba menjalin hubungan dengan Perusahaan. Orang kaja bandahara dari desa Petapahan, jauh di pedalaman di Tapong Kiri, bahkan mengirimnkan Putranya ke Malaka untuk tujuan ini.

Gubernur mengusulkan agar Pemerintah mengambil tindakan dan bahkan meminta bala bantuan kapal dan awak kapal untuk menguasai tambang tersebut tapi keinginan tersebut saat itu belum terpenuhi karena Pemerintah Belanda tengah mengalami berbagai masalah yang menimbulkan ketidaknyamanan dalam mengeksploitasi tambang milik mereka sendiri di tempat lain di Sumatera.

Akhirnya maksud tersebut terpenuhi dengan keluarnya instruksi yang dikirim ke Malaka untuk melakukan survei tambang dengan dengan hati-hati karena sampel timah yang dikirim sangat bagus.

Tambang timah disurvei pada tahun 1675 – 1676. Pada musim gugur tahun 1676, Pemerintah Belanda menyatakan prospek tambang tersebut tidak sesuai dengan yang diharapkan dan memutuskan untuk membeli dan membuat kontrak perdagangan dengan penguasa di sana, dimana disepakati bahwa Kompeni akan memonopoli semua timah yang dikirim.

Tahun berikutnya, Letnan Hendrick Themmer berlayar ke Sungai Siak dan untuk membeli bijih di pertambangan dan menutup transaksi antara pemilik tambang dengan pihak lain.

Tahun 1677 hubungan dengan Siak terputus akibat pertempuran yang terjadi antara Minangkabau dari Naning dan Rombau yang posisinya berdekatan dengan Malaka. Tahun 1680 perdamaian dipulihkan dan Malaka mulai berpikir untuk membangun kembali hubungan dengan Siak terlebih lagi mengingat hubungan dagang yang telah terjalin dengan Indragiri dulunya (stasiun/gudang Kompeni di sana diserang dan dijarah pada tahun 1679)

– Latar belakang
Tahun 1641, VOC berhasil menguasai Melaka yang merupakan salah satu pelabuhan kunci di kawasan tersebut oleh karena dari tempat itu lalu lintas kapal yang berlayar antara Laut Cina Selatan dan Samudera Hindia dapat diawasi. Dengan demikian pelabuhan itu merupakan mata rantai yang menghubungkan berbagai kerajaan yang memiliki aneka barang, bangsa dan kebudayaan. (Melaka merupakan pusat masyarakat Melayu hingga tahun 1511, saat bangsa Portugis menaklukan pelabuhan tersebut dan memerintah hingga kedatangan VOC).

Saat menaklukan Melaka, VOC dibantu oleh Johor yang merupakan tempat pengungsian banyak kaum elit Melayu dari Melaka menyusul tahun 1511. Johor dan VOC bersekutu hingga sesudah tahun 1641meskipun sering timbul ketegangan karena dalam beberapa dasawarsa berikutnya Johor mulai menguasai kawasan hutan yang luas dengan sumber daya berlimpah yang terletak di bagian timur Sumatra.

Menyusul penemuan ladang-ladang timah di kawasan hulu sungai Siak dan Kampar di tahun 1670-an, Sumatra Tengah menjadi sumber daya tarik dan persaingan bagi Johor dan VOC. Di kawasan itu terdapat jaringan masyarakat yang luas yang melakukan perdagangan antara daerah pedalaman dan Selat Melaka. Para pemimpin masyarakat dengan mudah memeterai perjanjian dengan negeri (nagari) mana saja yang memberikan keuntungan paling besar.

Jauh dari kawasan aliran sungai tersebut terdapat dataran tinggi Minangkabau, tempat bermukim masyarakat matrilineal yang rancak menguasai produksi beras dan pendulangan emas. Dari kawasan dataran tinggi tersebut yang bak sebuah tempat mistik bagi orang di awal kurun waktu modern, aktivitas perdagangan mengalir melalui daerah aliran sungai menuju ke Selat Melaka. Itu sebabnya maka dataran tinggi itu menjadi tujuan utama bagi setiap pedagang di kawasan tersebut.

Thomas Dias melangkah masuk ke dalam aneka jejaring persaingan perdagangan ini, dengan melakukan sebuah perjalanan yang cukup menakjubkan ke dataran tinggi Minangkabau, dan dengan demikian turut membantu mengembangkan sejumlah simpul perhubungan antara VOC dengan negeri di pedalaman Sumatra.

Tidak banyak yang diketahui seputar Thomas Dias. Selain kisah perjalanannya ke kawasan Minangkabau di tahun 1684, namanya hanya disebut beberapa kali dalam catatan-catatan VOC.

Dari catatan-catatan tersebut muncul sosok seorang pegawai yang dapat dipercaya, yang sering berfungsi sebagai perantara dengan para pemimpin dan pedagang setempat. Misalnya, di tahun 1682 Dias menyerahkan sejumlah surat kepada para pemimpin di Indragiri dan dalam sensus Melaka tahun 1680, tercatat bahwa Dias menikah dan mempunyai delapan anak dan dua orang budak. Dias digolongkan dalam ras orang berkulit hitam (zwarte).

Selain cuplikan singkat dari kehidupan Thomas Dias di Melaka itu maka hampir semua yang diketahui tentang dirinya berasal dari sebuah laporan yang ditulisnya pada tanggal 25 September 1684, menceritakan perjalanannya ke Minangkabau.
Berikut Kisahnya :

– Perjalanan ke Sumatera Tengah 1684

Asal muasal dilakukannya perjalanan tersebut adalah karena sejumlah kegagalan para pegawai VOC di tahun 1683 untuk berkomunikasi dengan para pemimpin masyarakat di kawasan pertambangan di Sumatra bagian tengah.

Dias merupakan salah satu peserta dalam ekspedisi ke Patapahan yang dilakukan pada tanggal 17 Mei 1683 atas instruksi Gubernur Cornelis Van Qualbergh di bawah pimpinan Hendrik Temmer.

Hanya sedikit yang dicapai ekspedisi tersebut, tetapi Dias tetap tinggal di Patapahan sesudah yang lainnya pulang. Di tempat itu dia mendirikan sebuah pos kecil sebagai semacam perwakilan (morador) Kompeni. Dalam kedudukannya itu, Dias bertengkar dengan seorang wakil pihak Belanda, Hendrik van Roonhuyzen yang berkunjung ke Patapahan di akhir tahun itu.

Menurut Van Roonhuyzen, banyak permasalahan perdagangan yang terus berlanjut adalah akibat dari ketidakmampuan Dias. Kendati akhirnya Dias dapat membela diri di hadapan para pejabat Melaka, kedudukannya dan kelayakannya untuk dipercaya sebagai seorang perantara sudah dipertanyakan.

Demi untuk mengembalikan kedudukannya di mata pejabat VOC, Dias mengajukan usulan berani yang membuat namanya kemudian tercatat dalam dokumen-dokumen arsip dan dengan begitu juga dalam sejarah: ini disebabkan karena dengan melakukan perjalanan itu diharapkan penguasa Minangkabau akan dapat diyakinkan untuk menertibkan kawasan yang sering bergejolak itu.

Untuk mencapai tujuan tersebut maka Dias bermaksud pergi ke ibukota Minangkabau dan memastikan bahwa penguasa setempat akan memberikan dukungan kepada kepentingan perdagangan VOC di kawasan tersebut. Para pejabat VOC kemudian menyetujui maksud ini.

Ini adalah pertama kalinya orang Eropa bertemu langsung dengan penguasa secara tatap muka. Sebelumnya, pada tahun 1665 dua pejabat pribumi telah dikirim dari Pantai Barat membawa hadiah untuk rajai Minangkabau dan Residen Padang, Jan van Groenewegen juga sempat menawarkan diri pada Pemerintah untuk pergi ke sana sendiri guna mendorong perdagangan emas namun rencana itu gagal karena dia keburu meninggal.

Bulan Mei 1684, Tomas Dias mengirim sebuah surat kepada penguasa Minangkabau di Pagar-Ruyung (dalam dokumen disebut “Paggar Oejom”), minta izin untuk berkunjung dan tak lama kemudian mendapat jawaban positif. Segera Dias menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan dan bersama 37 orang memulai perjalanan ke dataran tinggi Minangkabau. Kisah perjalanan tersebut termuat dalam laporan sebagaimana berikut ini.

Setelah keputusan untuk mengutusnya ke Minangkabau ditetapkan pada tanggal 28 Mei, 13 hari kemudian Dias berlayar dengan menaiki kapal dagang Orangie (yang membuang sauh di pelabuhan di sungai Siak); Dari sana, perjalanan diteruskan ke Patapahan yang memakan waktu selama 7 hari. Setelah mengalami keterlambatan, Dias tiba dengan selamat pada tanggal 20 bulan Juni dan segera menyampaikan surat perintah perjalanannya kepada penguasa kota.

Ia diterima oleh penguasa kota setempat yang dikelilingi oleh banyak petinggi negeri. Sesudah bertukar salam hormat sesuai tata krama, penguasa setempat menanyakan keadaan Gubernur Malaka serta menyampaikan permintaan untuk diizinkan mengirimkan gontingh-nya ke Aceh yang dijawab oleh Dias agar penguasa membuat surat tertulis.

Sesudah tiga hari berada di sana, Dia bermaksud akan menyampaikan surat-surat Gubernur yang salah satu di antaranya ditujukan kepada Residen Air Tiris (penduduk kawasan Air Tiris saat itu berjumlah sekitar 10.000, sebagian besar adalah saudagar.

Beberapa orang diantaranya memenuhi permintaan Dias untuk menjualkan bahan kain yang dibawanya dan ternyata laku keras tak bersisa dalam waktu dua bulan) Pada saat itulah datang sepucuk surat dari Sultan “Siry Pada Moeda”, Raja Minangkabau yang dibawakan oleh sembilan orang utusan. Dalam surat tersebut Raja memintanya untuk datang berkunjung ke Istananya.

Persiapan perjalanan pun segera dilakukan bersama 20 orang penduduk Patapahan yang bersedia mendampinginya dalam perjalanan tersebut. Dengan pertimbangan bahwa perjalanan tersebut mesti melalui pegunungan yang dikuasai para raja yang belum mengetahui bahwa atasan mereka telah berkirim surat kepada Kompeni, sehingga mereka mungkin menaruh curiga dan akan menghalangi perjalanan, disepakatilah bahwa perjalanan tidak dilakukan melalui jalan yang sudah lazim dipergunakan tetapi melalui hutan yang dihuni oleh para perampok dan binatang buas. Untuk itu, diperlukan seorang pemandu yang berpengalaman.

Pada hari kedua persiapan perbekalan perjalanan , laksamana Louw mendarat di sungai Patapahan dan menemui Dias. Laksmana itu mengatakan bahwa dia diperintahkan untuk berkunjung serta mencari tau apa yang sedang berlaku. Saat diminta memperlihatkan surat perintahnya terungkaplah bahwa Laksmana itu berbohong, dia hanya karena memperlihatkan sebuah surat tanpa nama atau pun tanda tangan. Menyadari hal itu , Diaspun memintanya agar secepatnya kembali ke hilir sungai.

Saat tengah sibuk2nya mempersiapkan perbekalan datanglah masalah tak terduga dimana 20 orang yang sudah berjanji akan mendampinginya mengingkari janji mereka. Mendapati kenyataan ini, Dias segera memanggil seorang petinggi Minangkabau yang dikenalnya. Petinggi ini datang dengan membawa bersama 25 orang bersamanya dan menyatakan siap untuk mendampingi setelah diterangkan maksud dan tujuan dari perjalanan tersebut.

Perjalananpun yang mempertaruhkan nyawa itupun dimulai. Rombongan itu berjumlah 37 orang, karena Dias juga membawa serta sepuluh orang dari chialoup yang menyatakan siap untuk mempertaruhkan jiwa mereka demi mengabdi pada Kompeni.

Malam Hari keempat , setelah melakui Air Tiris, Belimbing, Ridan sampailah mereka di Padan. Saat penduduknya mengetahui bahwa rombongan ini bermaksud hendak pergi ke Minangkabau,, mereka menolak memberi tempat menginap sehingga rombongan tersebut terpaksa bermalam di bawah pohon sambil berjaga-jaga dengan senjata siap di tangan.

keesokan hari, perjalanan dilanjutkan dengan berenang menyeberangi sebuah sungai dan tiba di Pakoe. Dari sana, rombongan mengubah rute perjalanan dengan kembali masuk ke hutan dan melintasi pegunungan kendati pemandu perjalanan menyatakan berbagai keberatan selain bahaya dari para pembunuh dan binatang buas, juga mesti melintasi pegunungan terjal, banyak rawa, semak berduri dan sebagainya. Penjelasan pemandu ini membuat kecil hati para orang Minangkabau yang menyertai perjalanan, namun setelah dihimbau dan diberi arahan yang membesarkan hati oleh Dias, merekapun bersedia kembali meneruskan perjalanan.

Pagi buta sebelum para penduduk kota bangun dari tidur mereka, rombongan kembali melanjutkan perjalanan agar penduduk kota tidak mengetahui arah yang akan mereka tempuh. Selama tujuh hari berikutnya, mereka melintasi hutan tanpa menjumpai satu buah gubuk pun. Pada akhir hari ketujuh rombongan itu tiba di sebuah desa yang terdiri dari 3 hingga 4 rumah yang terletak agak tersembunyi. Dirumah-rumah itulah kemudian mereka beristirahat dan bermalam.

Saat fajar baru menyingsing keesokan harinya, perjalanan dilanjutkan dengan menerabas hutan dan tiba pada sebuah gunung yang sangat tinggi yang menurut orang setempat bernama Pima. Sesudah berjalan beriringan selama sepuluh hari, rombongan Dias tiba di Ngoengoeng, empat mil dari Boeo. Ditempat itu mereka kembali beristirahat setelah mengutus sembilan orang untuk memberi tahukan kedatangan rombongan yang diutus oleh Cornelis van Quaalbergen, Gubernur Malaka.

Tak lama kemudian Raja mengutus seorang Raja Malio yang datang bersama 500 orang dengan membawa panji-panji kerajaan berwarna kuning menyambut Dias.

Atas nama Tuan serta Baginda Raja mengatakan bahwa baginda sangat gembira atas kedatangan Dias beserta rombongan dengan selamat dan menyambut baik serta memintanya memasuki kota. Karena hari sudah malam, Dias menampik dengan sopan dan mengatakan bahwa tidaklah sopan, untuk menyampaikan pesan atau pun surat dari Gubernur kepada Baginda Raja di malam hari, dan apabila Baginda Raja hendak menunjukkan itikad baik serta persahabatan kepada Kompeni atau kepada gubernur Malaka, maka kiranya hal tersebut boleh dilakukan di pagi hari.

Keesokan pagi, utusan Raja kembali mengunjungi Dias dan rombongan dengan tugas untuk menerima surat dan hadiah-hadiah dari Kompeni dan Gubernur. Saat itu Dias kembali memohon agar Baginda Raja sudi kiranya menunda pertemuan hari itu karena masih sangat kelelahan. Mendengar permintaan tersebut, Raja Malio berbalik kembali menghadap Baginda Raja.

Keesokan harinya, dua putra Raja, yaitu Pangeran bersama abangnya datang menemui Dias bersama 4000 pengawal yang membawa panji-panji dan berbagai peralatan kerajaan serta sejumlah besar caitoquas, payung kerajaan yang berlapiskan warna ke-emasan serta sejumlah tanda kebesaran kerajaan seperti piring-piring emas yang diperuntukkan guna menerima surat-surat dan sejumlah piring perak untuk menerima hadiah.

Pangeran menerima surat dari tangan Dias di atas piring emas yang dibawanya sendiri sementara para petingginya membawa hadiah-hadiah yang diletakkan di atas beberapa piring perak. Dengan diiringi serangkaian tembakan kehormatan mereka berjalan bersama menuju istana.

Baginda Raja memerintahkan surat dibacakan dan sesudah selesai, Baginda memberikan kepada Dias buah pinang yang diletakkan di sebuah piring perak besar sambil berkata bahwa betapa mujurnya Dias yang telah melakukan perjalanan jauh dengan menanggung risiko menghadapi banyak bahaya menerabas hutan tanpa halangan berarti dan Baginda Raja juga mengatakan bahwa belum pernah ada orang Nasrani yang melakukan perjalanan seperti itu menemui dirinya

Setelah beberapa saat lamanya berbincang-bincang, Baginda memerintahkan Raja Malyo untuk menyiapkan sebuah hunian baginya beserta semua perlengkapan yang diperlukan serta segala apa yang diinginkan Dias.

Sesudah 2 atau 3 hari berlalu, Dias melakukan kunjungan kepada beberapa penguasa dan mohon agar diperkenankan untuk dapat kembali menghadap Baginda Raja, namun dijawab bahwa permohonanya itu tidak dapat dikabulkan karena pertemuannya dengan Baginda tempo hari dianggap sudah cukup oleh mereka.

Menerima penolakan tersebut, ia berkesimpulan bahwa penolakan itu hanya didasarkan pada kecurigaan atau itikad buruk para pembesar dan tidak karena diperintahkan atau pun dikehendaki demikian oleh Baginda Raja, maka Diaspun menjawab : “Saya diperkenankan dan sudah bercakap dengan raja besar Sultan Turki, tetapi mengapa saya tidak diperkenankan bercakap dengan Baginda Raja sementara Sultan Turki menurut Baginda Raja adalah saudara seperjuangan beliau “?
Atas ucapan saya itu, para pembesar berdiam diri dan berusaha menyembunyikan maksud buruk mereka.

Tidak hanya sampai disitu saja, Diaspun mengambil langkah lain yaitu menemui ibunda Raja Malio dan memohon kepadanya untuk sudi kiranya menyampaikan pesan kepada Baginda untuk kembali menghadap. Ternyata usaha itu disambut baik, ratu mengirimkan daun sirih dan beberapa buah pinang yang ditaruh di atas sebuah pinggan perak yang berlapiskan kain kuning kepada Dias, dan mengabarkan bahwa tiga hari lagi akan dipanggil menghadap Baginda Raja,

Pada hari yang dijanjikan, Raja Malio datang menemui Dias bersama dengan 12 pengiring yang membawa panji-panji kerajaan, dan memberitahu bahwa Baginda Raja telah memanggil. Berangkatlah ia bersama rombongan raja Malio menghadap ke istana Baginda raja. Gerbang pertama, dijaga oleh 100 pengawal dengan senjata terhunus. Di gerbang kedua terlihat empat pengawal dan di gerbang ketiga hanya ada dua orang, semuanya dalam sikap sama seperti mereka di gerbang pertama. Di istana terlihat Baginda Raja duduk bersama dewan penasehat dan beberapa orang haji.

Dias bergegas masuk dengan sikap hormat seperti yang lazim dilakukan saat menghadap seorang Baginda Raja. Melihat perilakunya tersebut, Baginda Raja berkata kepada para pembesarnya :
“Kalian semua berkata bahwa orang Nasrani adalah orang yang kurang ajar yang tidak mengenal sopan santun, tapi kini Aku merasa bahwa kalian telah memberikan gambaran yang tidak benar karena ternyata di hadapan kalian dan di hadapanku sendiri, orang ini paham sopan santun dan berperi laku seperti kalian.’

Sesudah Raja berhenti berucap, Dias memohon agar diperkenankan berbicara kepada para pembesar, yang dijawab oleh Baginda :
“Para utusan bebas berucap”

Lantas Diaspun berkata :
“Rakyat Yang Mulia telah menutup mata Baginda dengan kain serta menutup telinga Baginda dengan bahan lilin yang menyebabkan Baginda tidak pernah mendengar apa yang terjadi di dunia, sehingga apa yang baik dan apa yang buruk semuanya tersembunyi dari pandangan Baginda”.

Baginda Raja menjawab dan membenarkan seraya berujar :
“Hari ini mataku terbuka untuk melihat dengan jelas dan aku tidak akan lagi memercayai ucapan mereka. Ketika mereka berbicara tentang hal-hal yang tidak pernah mereka alami atau tidak pernah mereka lihat atau dengar sehingga mereka tidak memahaminya”.

Kemudian Baginda berkata kepada para pembesar:
“Tahukah kamu sekalian bahwa selama pemerintahan nenek moyangku tidak pernah ada catatan bahwa ada orang Nasrani yang datang ke kerajaan ini, sehingga dengan demikian orang Nasrani pertama adalah Thomas Dias yang telah diutus oleh gubernur Malaka, dan kunjungannya sangat berkenan di hatiku sehingga akan aku catat dalam buku peringatan, dengan khusus menyebut nama gubernur dan duta beliau, karena seyogyanyalah selama ini belum ada utusan dari Malaka yang berkunjung ke kerajaan Minangkabau ini.

kemudian Raja berpaling kepada Dias memerintahkanya mengatakan apa yang dia inginkan. Dias menjawab :
“bahwa Kompeni dan juga saya pribadi, tak ada keinginan lain kecuali menginginkan kesehatan Baginda Raja seraya mempersembahkan itikad serta jasa baik Kompeni yang, karena tak ada orang lain, telah memerintahkan saya untuk melakukan kunjungan ini serta mencium kaki Baginda”.

Kemudian Baginda Raja kembali bertanya kepadanya apakah dia orang yang memberi tumpangan di Malaka kepada keponakannya Raja Itam. Dias membenarkan hal tersebut.

Kemudian Baginda Raja memerintahkan para pembesarnya pergi, sehingga yang tinggal hanya Raja Malyo, juru tulisnya bersama tiga orang haji. Kemudian Raja turun dari kursi tahtanya dan duduk di atas sebuah bangku dekat Dias, dan kemudian kembali bertanya apa yang dia inginkan, Diaspun menjawab seperti apa yang sudah dia terangkan sebelumnya.

Mendengar jawaban itu, Baginda mengatakan bahwa karena belum pernah ada seorang Nasrani yang datang ke mari, Maja Baginda berniat memberinya gelar sebagai “Orang Kaya Sudagar” dan “Orang di dalam Istana”, yang akan diresmikan pada pukul tiga keesokan harinya .

Pada jam yang ditentukan diapun pergi ke istana menemui Baginda Raja yang dikelilingi para pembesarnya. Sesudah dia menyampaikan salam hormat, Baginda Raja membalas hormat dan berkata dengan suara yang lantang:
“O, Orang Kaya Saudagar Raja, orang di dalam Istana”.
Dias berpaling kepada Baginda Raja dan dengan segala hormat menjawab:
“Daulat Tuan”.

Sesudah itu kepadanya diberikan sebuah panji berwarna kuning serta sebuah senjata yang menyerupai tombak yang berlapiskan perak dan diletakkan di atas sebuah pinggan perak dan sebuah cincin dari tembaga suasa. Di samping itu Dias juga diberikan surat resmi dengan cap kerajaan, yang berisi keterangan bahwa ada tiga pelabuhan, yaitu Siak, Patapan dan Indragiri, di mana Kompeni dan dia bisa melakukan aktifitas perdagangan.

Ketika dia mohon ijin untuk berbicara, Baginda menjawab :
“Barangsiapa yang sudah diterima sebagai orang di dalam istanaku, seperti engkau yang sudah aku terima sebagai saudagarku maka oleh karena itu engkau diizinkan untuk pergi dan masuk dan berperilaku seperti orang-orang lain dalam istanaku”.

Diaspun mengungkapkan rasa terimakasihnya sembari berkata :
“Baginda Raja sudah pasti maklum bahwa Raja Johor telah mengambil Siak dan Indragiri juga sudah mempunyai seorang raja sendiri.”
Baginda Raja menjawab:
“Kepada anak-anak Raja Johor aku sudah ijinkan Siak sebagai tempat tinggal dan tempat bercengkerama mereka, tetapi kini tidak lagi demikian karena Paduka Raja telah berlaku buruk serta berkhianat terhadap keponakanku Raja Itam, dan kepada Raja Johor yang sudah mengatakan bahwa Siak termasuk daerah kawasannya, saya minta Raja Johor memberikan bukti bilakah kawasan itu diberikan kepadanya sebagai miliknya.”

“Kemudian Indragiri adalah bawahanku tetapi telah berdiri sendiri dan memberontak, akan tetapi kawasan Indragiri hingga ke tepi laut adalah milikku, dan Raja setempat belum lama ini telah mohon ampun kepadaku, yang tidak Aku kabulkan, dan Aku juga tidak sudi menerima upeti apa pun darinya, tidak hanya karena kejahatan yang telah dia lakukan tetapi juga karena dia sudah berkomplot dengan orang-orang luar dan mengkhianati orang-orang Kompeni dalam loji: mereka disergap, dibunuh serta dirampok”.

“dan apabila disetujui oleh Kompeni maka Aku bersama rakyatku akan membalas dendam, dan mereka cukup mengatakan demikian serta mengirim dua kapal, maka kami akan mengusir mereka dari sana dan apabila disetujui Kompeni, kami akan mendirikan sebuah benteng sesuai keinginan mereka dan Aku akan mengijinkan para pedagang mereka untuk melakukan kegiatan mereka karena Indragiri sendiri tidak memiliki apa-apa, dan bahkan musuhnyapun harus datang dari kerajaanku”.

Selain itu, Baginda Raja juga memberikan kuasa penuh kepada Dias untuk melakukan atau membatalkan apa saja di ketiga pelabuhan atau tempat dagang tersebut, juga untuk menghukum mereka yang patut dihukum, bahkan menjatuhkan hukuman mati bagi mereka yang patut dihukum mati dan menyita miliknya, dan semuanya “semaksimal mungkin”, dan di kawasan yang biasa menjual rakyatnya sebagai budak, maka Dias juga berhak memiliki budak-budaknya.

Selanjutnya Baginda Raja berujar bahwa beliau sudah memutuskan untuk menulis surat balasan kepada Yang Mulia gubernur, dan bertanya kepada Dias gerangan apa yang sebaiknya beliau berikan sebagai jawaban. Dias menjawab :
Yang Mulia Paduka maklum bahwa di gudang-gudang Kompeni dan gudang milik gubernur terdapat sejumlah emas, tetapi saya tidak diutus untuk mengambil tambahan emas melainkan hanya untuk mencari tahu tentang kesejahteraan Yang Mulia, dan menyampaikan itikad serta jasa baik sebagai seorang teman baik”

Lalu Baginda menyatakan bahwa beliau merasa berkewajiban untuk menjadi teman baik dari Yang Mulia Gubernur, dan untuk membuktikan betapa beliau menjunjung tinggi persahabatan itu beliau menyerahkan se-ekor dari dua ekor kuda milik negara kepada Yang Mulia Gubernur sebagai ungkapan persahabatan. Dias berkata bahwa yang dia inginkan hanyalah agar diperbolehkan melakukan perdagangan dengan kawasannya, baik itu di Siak atau di Patapahan; dijawabnya bahwa hal itu bisa dilakukan apabila Dias sendiri siap berdagang di salah satu tempat itu. Dan ketika Dias kemudian bertanya, dari tiga tempat yang disebutkan tadi, di tempat mana yang pertama dia diperkenankan melakukan perdagangan, dan dia juga mohon mendapatkan persetujuan secara tertulis untuk meyakinkan rakyat tempat bersangkutan, atau bahkan secara pribadi pergi ke tempat tersebut serta memberitahukannya kepada rakyat bersangkutan, maka Baginda berkata, hendaknya Dias datang lagi pada hari lain untuk menerima surat dan jawaban tersebut.

Keesokan harinya, Dias memperoleh surat jawaban, dan selain itu juga dua helai kertas kosong dengan cap Raja dan Baginda berkata bahwa Gubernur dan Dias sebaiknya mempergunakan satu helai kertas untuk menulis ke Rombou dan yang satu helai lagi untuk dipergunakan pada waktunya di tempat yang menurut Yang Mulia gubernur dan Dias cocok untuk melakukan kegiatan perdagangan. Dias kemudian berkata bahwa hal tersebut tidak akan dapat dipercaya di Malaka. Maka Baginda membuka kembali surat yang sudah disegel itu dan memerintahkan juru tulis beliau untuk menuliskan wewenang penuh tersebut pada kedua helai kertas yang masih kosong itu, dan kemudian Raja berkata apabila menerima surat bagaimana beliau dapat meyakinkan diri bahwa surat-surat itu berasal dari Dias; maka Dias memperlihatkan cincin ségél dan mengatakan akan membubuhkan cap pada surat-suratnya.

Sesudah itu Baginda meminta Dias membubuhkan cap di atas sebuah papan di dalam istana sebagai contoh untuk memeriksa surat-surat yang dikirimnya di masa depan. Kemudian Baginda memberikan daun sirih dan 2 biji buah pinang serta juga sebuah kotak kecil yang di dalamnya terdapat gambar-gambar tak senonoh kepada Dias sembari berkata :
“Oleh komandan atau laksamana bersama Panglima Raja saya diberi kotak ini dalam keadaan terbungkus rapat, dan disampaikan kepadaku sebagai sesuatu yang sangat bernilai dan Panglima itu minta dengan sungguh-sungguh agar Aku tidak mengijinkan engkau bertemu denganku. Ambillah kotak ini dan tunjukkan kepada yang terhormat tuan gubernur agar tuan gubernur dapat menilai perbuatan laksamana itu yang telah memberiku hadiah yang tak senonoh.”

Diaspun menerima kotak tersebut dari Baginda seraya berjanji akan melaksanakan apa yang diperintahkan.

Catt : sebelum melanjutkan kisah ini, dirasa perlu menambahkan laporan perihal seorang kelasi India Muslim yang tiba di istana dengan berbusana sebagai seorang haji seperti yang lazim dikenakan orang-orang Muslim; tanpa mohon izin, kelasi itu diam-diam menghampiri Raja dengan berperilaku seolah-olah seorang suci, sambil mengatakan bahwa dia baru saja datang dari kota Mekkah, tempat di mana dimakamkan Yang Tersuci Rasul Muhammad dan sekarang pergi menjumpai Raja untuk menyampaikan salam serta menawarkan jasa kewajibannya, seraya mengatakan betapa dia menduga bahwa di kerajaan Yang Mulia terdapat orang-orang Nasrani serta orang-orang bertopi, dan menambahkan bahwa Yang Mulia adalah Baginda Raja yang maha besar serta maha suci dan sebab itu tidak pantas menyilahkan orang-orang terkutuk demikian berada dalam kerajaan beliau, dan lain sebagainya, dan sebab itu sebaiknya orang-orang demikian disuruh pergi, dan dia masih mengungkapkan sejumlah alasan dan perkataan lain.

Salah seorang putera raja, kemudian memberitahu Dias agar secepatnya pergi bersama rombongannya dari istana. Tetapi ketika masih berada di istana dia melihat haji suci bersangkutan sedang keluar istana dan beberapa di antara pengikutnya menatap cermat haji tersebut dan mengatakan kenal dengan haji tersebut dan mengatakan bahwa dia adalah seorang kelasi India Muslim yang mabuk, dan karena hutang-hutangnya telah melarikan diri dari Malaka ke Riau. Keterangan tersebut disampaikannya kepada Baginda Raja.

Mendengar keterangan demikian, Baginda Ra berujar :
“Oleh karena orang itu sudah minum anggur dan menjadi mabuk, maka dia bukan lagi seorang haji melainkan seorang penipu, yang diutus ke mari atas tipu daya. Pergi dan kejar dia dan bunuh dia.”
Menyusul perintah itu terlihat 3 hingga 400 orang berlari untuk melaksanakan perintah tersebut, dan dengan demikian maka penipu itu menemui ajalnya.

Diaspun mohon diri untuk melanjutkan perjalanan dengan didampingi oleh Raja Malio, dengan sebuah payung putih yang berhiaskan banyak rumbai-rumbai, bersama 3000 serdadu yang dengan teratur melepaskan tembakan dari senjata mereka, dan di malam hari rombongan tiba di Siluka. Kemudian Raja Malio menyuruh ke 3000 serdadunya pulang kembali ke istana sementara rombongan melanjutkan perjalanan dari Siluka tanpa rasa khawatir, dan di dekat kota Siluka mengalir sebuah sungai yang bernama Kuantan. Dari tempat itu mereka melanjutkan perjalanan hingga sebuah tempat bernama Maranty (Menganti) dan dari sana ke kota Sunipo (Sumpur) dan dari situ rombongan Dias tiba di kota Ungam (Ungan) dan dari Ungam sesudah melewati pegunungan mereka tiba di daerah yang dikenal dengan nama Madiangem (Mandi Angin) dan di kawasan yang terbentang antara Siluka hingga ke pegunungan itu terdapat banyak emas, bahkan seakan tumbuh marak di sana.

Dari sini perjalanan dilanjutkan ke Air Tanam (Air Tanang) – Pancalan Serre (Pangkalan Sarai) – Turusan (Tarusan) dan dari Turusan -Catobaro, Merorum (Mariring) – Merobiaan – Tanjong Bale (Tanjung Balit) – Passar Lama (Pasar Ramoh) – Oedjom Boket (Ujung Bukit) – Damo (Domo) – Sava (Padang Sawah) – Cuncto (Kuntu) – Lagumo – Liepa Cain (Lipat Kain) – Paku – Calubee – Padan – Belenbun – Ajer Tiris.

* marjafri – Founder Komunitas Anak Nagari
* Sumber :
– F. M. SCHNITGER, PH. D, FORGOTTEN KINGDOMS IN SUMATRA – TO CENTRAL SUMATRA IN 1684 page. 55-64
– ANRI, Thomas Dias: Perjalanan ke Sumatera Tengah 1684 – Dari Catatan Kastil Batavia Mulai Fol 1431
– Timothy P. Barnard, “Thomas Dias’ journey to Central Sumatra in 1684”. In: Harta Karun: Hidden Treasures on Indonesian and Asian-European History from the VOC Archives in Jakarta, document 1. Jakarta: Arsip Nasional Republik Indonesia, 2013.

Must Read
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
Related News

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini