MENGAPA HARUS MEMILIH ANIES RASYID BASWEDAN

oleh -234 Dilihat
Oleh : Abdul Aziz Pengamat Ekonomi dan Teknologi Mahasiswa PDIM Universitas Andalas Padang (Foto Rizal)

Negara Keasatuan Republik Indonesia yang menganut sistem pemerintahan presidensial dimana pemegang kekuasaan eksekutifnya tidak harus bertanggung jawab kepada legislatif. Pemegang kekuasaan eksekutif tidak dapat dijatuhkan oleh badan legislatif meskipun kebijakan yang dijalankan tidak disetujui oleh pemegang kekuasaan legislatif.

Pemilihan dan penetapan seorang Kepala Negara merupakan sesuatu yang sangat penting dalam keberlangsungan pemerintahan suatu bangsa. Dalam sistem presidensial, presiden tidak hanya menjadi pemimpin dan simbol dari suatu negara, melainkan juga sebagai kepala dalam pemerintahan. Segala hal yang berhubungan dengan pemerintahan haruslah atas persetujuan dan pengetahuan dari Presiden. Dalam hal ini, Presiden menjadi penentu segala keputusan dengan didasarkan pada aturan perundang-undangan negara tersebut. Dalam menjalankan roda pemerintahan dan kewenangnya, Presiden dibantu oleh para Menteri.

Pesatnya perkembangan ekonomi, teknologi dan budaya mengharuskan seorang Kepala Negara memiliki tingkat pengetahuan dan kepemimpinan yang mumpuni. Walaupun seorang Presiden telah dibantu oleh sekelompok mentri, tentu saja seorang Presiden harus memiliki kecerdasan serta pengalaman lebih baik dari pada para Mentri sebagai pembantunya.

Keahlian yang wajib dimiliki pemimpin masa depan sebagai Presiden dalah coordinating with others atau kemampuan berkoordinasi dengan orang lain yang tidak bisa dilakukan setiap orang. Emotional intelligence adalah kompetensi dan keahlian seorang pemimpin yang wajib dimiliki untuk mempersiapkan diri menjadi pemimpin masa depan. Lewat kecerdasan emosional ini, pemimpin akan bisa menyadari reaksi hingga dampak keputusannya bagi orang lain.

Judgement and decision-making yang menuntuntut bisa mengambil keputusan yang menguntungkan, tapi juga tepat. Service orientation sebagai keterampilan orientasi pada layanan yang artinya, seorang pemimpin harus menempatkan diri secara aktif membantu orang lain bukan cuma bisa memerintah. Dan seorang pemimpim harus memiliki negotiation skills atau kemampuan bernegosiasi sampai pada tahapan membuat kesepakatan.

Cognitive Flexibility atau flexibilitas kognitif mencakup banyak hal, mulai dari kreativitas, penalaran yang logis, sampai sensitivitas masalah.

Anis Rasyid Baswedan (ARB) memiliki keahlian kepemimpinan sebagai calon presiden masa depan Indonesia dengan keenam kahlian diatas sebagai pemimpin masa depan yang telah teruji dan dibuktikan saat menjadi Gubernur DKI Jakarta yang berakhir pada tanggal 22 Oktober 2022 yang lalu. Segudang prestasi Anies Rasyid Baswedan, membuat DKI Jakarta telah menjelma menjadi salah satu Kota Terbaik Dunia yang diperoleh pada ajang Sustainable Transport Award yang telah diselenggarakan di Forteleza, Brazil. Ini membuktikan bahwa Jakarta diakui, sehingga mendapatkan pengakuan dari lembaga kredibel tingkat dunia, bukan lewat banyaknya voting di media sosial.

Dengan latar belakang pendidikan bergelar Master of Public Management, dari Universitas Maryland pada tahun 1998, dan kemudian melanjutkan pendidikan di Northern Illinois University, Amerika Serikat. Pada 2004, ARB menyelesaikan pendidikannya dan mendapat gelar Doctor of Philosophy, Departemen Ilmu Politik dari Universitas tersebut. Disaat masih berstatus mahasiswa ilmu S3, ARB berkarier sebagai Research Assistant di Northern Illinois University dari tahun 2000 sampai 2004. Setelah menyelesaikan pendidikan S3, ARB masih tetap berkiprah berkarier sebagai Research Manager, IPC Inc., Bannockburn, Illinois, USA. Sebagai seorang Doctor of Phylosophy (PhD) sudah pasti ARB memiliki pemahaman terhadap filosofi ilmu, moral dan etik yang mendalam dan hanya diperoleh dijenjang Pendidikan S3 sebagai kebutuhan dasar dalam memimpin NKRI yang sangat menjunjung tinggi budaya, martabat dan etika yang selama ini hanya menjadi slogan semata.
Kemajuan suatu bangsa dapat diukur dari kemajuan ekonomi, teknologi dan kehidupan sosial di Negara tersebut. Kolaborasi teknologi dan ekonomi telah melahirkan ekonomi moderen yang dilakoni oleh kaum millenial. Kaum Millenial dan Generasi Z membutuhkan gaya kepemimpinan negara yang tidak mungkin lagi dijabat oleh kaum tua (generasi X atau baby boomer) yang sudah harus dengan rela menyerahkan tampuk kepemimpinannya kepada kaum muda yang lebih gesit dan enerjik. Pemimpin negara atau Presiden berikutnya harus memiliki strategi kepemimpinan BRAVE dalam memaksimalkan penggunaan potensi yang dimiliki kaum millennial. George Bradt sendiri dalam konsepnya mengenai Brave Leadership menyampaikan bahwa terdapat lima cara dalam memimpin generasi milenial, yakni : Behavior, Relationship, Attitude, Values dan Environment yang menurut beliau akan tidak jauh berbeda apabila diterapkan kepada generasi 10 tahun mendatang.
Atas semua kebutuhan dan alasan diatas maka sosok yang memiliki kemampuan dan pengalaman teruji ada pada Anies Rasyid Baswedan. Anies Rasyid Baswedan (ARB) telah membuktikan bahwa memimpin dengan latar belakang keilmuan dan pengalaman yang mumpuni terbukti telah melahirkan kesejahteraan bagi rakyat DKI. Hampir 54 % dari penduduk Indonesia adalah kaum millennial dan Generasi Z yang membutuhkan pemimpin cerdas dan berkarakter. Mereka memerlukan perubahan agar semua gagasan mereka bisa tersalurkan untuk memajukan Bangsa Indonesia. Kehadiran figur pemimpin masa depan seperti yang dimiliki ARB menjadi alasan utama bagi kemakmuran rakyat Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.