Jakarta,Metrotalenta.online—-Lembaga Perempuan Dayak Nasional (LPDN) terus memperkuat perannya sebagai wadah strategis bagi perempuan Dayak dalam memperjuangkan pemberdayaan, kemandirian ekonomi, dan pelestarian budaya di tengah tantangan zaman. Semangat tersebut diwujudkan melalui pelaksanaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) III dan Lokakarya Nasional (Loknas) 2025 yang mengusung tema besar “Penguatan Kelembagaan Masyarakat di Dalam dan di Sekitar Hutan.”
Kegiatan akbar ini juga dirangkai dengan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-2 LPDN, dan akan dilaksanakan pada Jumat dan Sabtu, 3–4 Oktober 2025, bertempat di Auditorium Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI), Lt 4, Jalan Medan Merdeka Selatan No.11, Gambir, Jakarta Pusat, DKI Jakarta.
Ketua Umum LPDN Ir. Nyelong Inga Simon menjelaskan bahwa Rakernas dan Loknas tahun ini menjadi momen penting bagi perempuan Dayak untuk memperkokoh posisi dan perannya dalam pembangunan berkelanjutan, khususnya di wilayah pedalaman Kalimantan dan daerah sekitar hutan.
“Tema yang kami angkat bukan sekadar slogan, tetapi merupakan panggilan hati. Kami ingin memastikan perempuan Dayak tidak hanya menjadi penonton dalam proses pembangunan, tetapi menjadi subjek yang aktif, produktif, dan berdaya guna,” ujar Nyelong dalam keterangan tertulis di Jakarta,30/09/2025).
Ia menjelaskan bahwa kegiatan Rakernas dan Loknas ini akan menjadi dasar bagi pelaksanaan Program Sekolah Lapang, yaitu wadah pembelajaran dan pemberdayaan perempuan Dayak yang akan diintegrasikan dengan Program Perhutanan Sosial pemerintah.
“Kami ingin menghadirkan program yang menyentuh langsung masyarakat, terutama perempuan dan generasi muda Dayak. Sekolah Lapang ini akan menjadi pusat pelatihan, pendampingan, hingga pengembangan ekonomi berbasis kearifan
Nyelong Inga Simon menyoroti bahwa kehidupan masyarakat adat Dayak sangat erat kaitannya dengan alam dan lingkungan. Sebagian besar masyarakat Dayak tinggal di kawasan hutan dan daerah aliran sungai (DAS), serta menggantungkan hidup dari hasil hutan dan alam sekitarnya. Namun, berbagai kebijakan yang membatasi aktivitas tradisional mereka, seperti larangan berladang berpindah atau mendulang emas tradisional, berdampak langsung terhadap ketahanan ekonomi masyarakat adat.
“Dampak dari pembatasan ini bukan hanya pada hilangnya sumber pendapatan, tetapi juga memunculkan persoalan sosial baru, seperti meningkatnya angka stunting, pernikahan dini, hingga kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Situasi ini harus menjadi perhatian semua pihak,” tegasnya.
Karena itulah, LPDN melalui Rakernas dan Loknas 2025 menginisiasi program nyata yang dapat mengembalikan kemandirian ekonomi masyarakat adat tanpa harus meninggalkan prinsip pelestarian alam.
“Kami ingin membuktikan bahwa perempuan Dayak bisa menjadi garda depan pelestarian hutan sekaligus pilar ekonomi keluarga,”
Dalam program Sekolah Lapang, perempuan dan anak muda Dayak akan dilatih mengolah lahan secara produktif melalui kegiatan pertanian, perkebunan, dan peternakan yang ramah lingkungan. Mereka juga akan mendapatkan pendampingan untuk memanfaatkan lahan yang dimiliki atau lahan hasil Perhutanan Sosial dari pemerintah.
“Sekolah Lapang akan menjadi wadah edukasi dan praktik pemberdayaan. Peserta akan didampingi fasilitator dari kalangan akademisi, praktisi, dan tokoh masyarakat. Program ini mencakup pelatihan produksi berbasis teknologi tepat guna, strategi pemasaran, akses permodalan, serta penguatan kelembagaan perempuan di desa,” jelasnya Nyelong.
Selain itu, Sekolah Lapang juga akan menanamkan nilai-nilai pelestarian lingkungan melalui penerapan pola tanam berkelanjutan dan rehabilitasi lahan kritis menggunakan tanaman berumur panjang, seperti pohon buah lokal, tanaman keras, dan tanaman hutan.
Selain diskusi tematik tersebut, kegiatan juga diisi dengan diskusi panel bertema pemberdayaan ekonomi kreatif dan kepemimpinan perempuan. Para tokoh perempuan Dayak dari berbagai provinsi akan berbagi pengalaman dalam mengelola usaha kecil, kerajinan, hingga kuliner lokal berbasis kearifan Dayak.
Rakernas kemudian dilanjutkan dengan pleno sinergitas aktivitas perempuan Dayak di bidang ekonomi kreatif dan produktif, sebagai langkah konkret memperkuat jaringan kerja sama antardaerah.
Sebagai bagian dari perayaan HUT ke-2, panitia juga menggelar Lomba Goyang Borneo, sebuah ajang kreatif yang melibatkan seluruh peserta, panitia, dan tamu undangan untuk bergoyang bersama dalam suasana kebersamaan. Acara kemudian ditutup dengan syukuran pemotongan tumpeng, dipimpin langsung oleh Ketua Umum LPDN Ir. Nyelong Inga Simon, didampingi oleh Kaukus Perempuan Parlemen (KPP) Provinsi Kalimantan Tengah, Indonesian Gastronomy Community (IGC), serta para pengurus LPD dari tingkat provinsi, kabupaten, dan kota se-Kalimantan.
Melalui seluruh rangkaian kegiatan ini, LPDN menegaskan komitmennya untuk terus menjadi motor penggerak pembangunan perempuan Dayak yang tangguh, cerdas, dan berdaya saing.
“Kami percaya, masa depan Kalimantan ada di tangan perempuan Dayak yang berpendidikan, berdaya, dan berkarakter. Karena itu, LPDN akan terus mengupayakan lahirnya generasi perempuan Dayak yang kuat dan mampu membawa perubahan di komunitasnya,”Tutupnya
Pewarta:Saprudin







