spot_img
spot_img
BerandaDAERAHKAB.PASAMANRefleksi 50 Tahun Sabar AS, Keberanian Merumuskan Pendekatan yang Berbeda

Refleksi 50 Tahun Sabar AS, Keberanian Merumuskan Pendekatan yang Berbeda

Pasaman,Metrotalenta.online.-Lima dekade perjalanan hidup kerap menjadi titik jeda untuk menimbang arah, menakar jejak, dan membaca ulang makna dari setiap fase yang telah dilalui. Bagi Sabar AS, yang lahir pada 1 Mei 1976 di Simaroken, Kecamatan Rao, Kabupaten Pasaman, refleksi itu tidak berdiri di ruang hampa. Ia bertumpu pada rangkaian proses panjang yang membentuk dirinya—dari ruang-ruang kaderisasi, gelanggang politik legislatif, hingga tanggung jawab di ranah eksekutif.

Fase awal pembentukan kepemimpinan Sabar AS dapat ditelusuri sejak masa perkuliahan. Keterlibatannya dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) bukan sekadar partisipasi simbolik, melainkan melalui tahapan kaderisasi yang berjenjang dan sistematis, mulai dari basic training hingga advance training. Dalam periode ini, ia tidak hanya hadir sebagai anggota, tetapi mengambil peran strategis: Presiden Mahasiswa BEM UIN Bukittinggi (1999–2000), Ketua Umum BADKO HMI Sumatera Barat (2002–2004), hingga Wasekjend PB HMI di Jakarta (2005–2007). Pola ini menunjukkan bahwa fondasi kepemimpinannya dibangun melalui proses pengorganisasian yang terstruktur, bukan lahir secara instan.

Memasuki dunia politik formal, Sabar AS menempuh jalur legislatif dengan menjadi anggota DPRD Provinsi Sumatera Barat selama tiga periode berturut-turut (2009–2020). Rentang waktu yang panjang ini bukan hanya soal kontinuitas jabatan, melainkan ruang pembelajaran yang memperkaya perspektifnya terhadap kerja pemerintahan. Fungsi legislasi, penganggaran, dan pengawasan menjadi medan praktik yang membentuk pemahaman struktural sekaligus memperkuat kemampuannya membaca dinamika politik daerah. Keberlanjutan tersebut juga mencerminkan kapasitas dalam menjaga relevansi di tengah perubahan konstelasi politik.

Peralihan ke ranah eksekutif menjadi babak baru ketika ia dipercaya sebagai Wakil Bupati Pasaman (2021–2023), lalu menjabat sebagai Bupati Pasaman periode 2023–2025. Pada tahap ini, pengalaman legislatif tidak lagi berhenti pada perumusan, tetapi diuji dalam implementasi kebijakan. Ada pergeseran pendekatan yang tampak dalam cara ia memandang persoalan daerah. Jika narasi umum sering berangkat dari keterbatasan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan ketergantungan pada pusat, Sabar AS justru memulai dari pertanyaan tentang potensi: bagaimana sumber daya yang ada dapat diolah menjadi kekuatan ekonomi.

Pendekatan tersebut tercermin dalam sejumlah kebijakan prioritas. Di bidang pendidikan dan pembinaan nilai, ia mendorong program Pasaman Berimtaq sebagai kerangka pembangunan berbasis iman dan karakter. Program ini tidak berhenti pada tataran normatif, tetapi diwujudkan melalui langkah konkret seperti pengangkatan guru tahfiz, penguatan kegiatan keagamaan, serta dukungan terhadap pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ). Upaya ini menunjukkan bahwa pembangunan sosial diposisikan sebagai fondasi yang berjalan seiring dengan pembangunan fisik.

Di sisi lain, dalam upaya meningkatkan PAD, arah kebijakan mulai keluar dari pola lama. Pengembangan sektor pariwisata didorong sebagai strategi utama dengan mempertimbangkan potensi lokal yang dinilai paling relevan. Pilihan ini tidak semata berorientasi pada peningkatan pendapatan, tetapi juga pada efek berantai terhadap ekonomi masyarakat, mulai dari sektor usaha kecil hingga penciptaan lapangan kerja.

Jika dibaca secara utuh, perjalanan Sabar AS memperlihatkan satu benang merah yang konsisten: kesinambungan antara proses pembentukan, pengalaman struktural, dan gagasan kebijakan. Dari aktivisme kampus hingga kepemimpinan daerah, terdapat upaya untuk tidak sekadar menjalankan sistem, tetapi juga mencari ruang untuk mengarahkannya.

Melewati usia 50 tahun, refleksi atas perjalanan ini tidak berhenti pada daftar capaian formal. Ia bergeser pada pertanyaan yang lebih mendasar: tentang arah yang telah dibangun, pilihan-pilihan yang diambil, serta kontribusi yang ditinggalkan. Dalam konteks itu, perjalanan Sabar AS mengingatkan bahwa makna kepemimpinan tidak hanya terletak pada jabatan yang pernah diemban, tetapi pada cara membaca persoalan dan keberanian merumuskan pendekatan yang berbeda.(jt)

Must Read
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
Related News

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini